Cari Blog Ini




MAKASRI 2010
Tampilkan postingan dengan label arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arkeologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Maret 2011

Seleksi Alam Berbahaya buat Manusia
Penulis: Yunanto Wiji Utomo | Editor: Tri Wahono
SHUTTERSTOCK
KOMPAS.com — Christian de Duve, ahli sitologi dan biokimia yang menerima penghargaan Nobel Fisiologi dan Kedokteran tahun 1974, membuat pernyataan mendebarkan. Dalam wawancaranya dengan New Scientist, 28 Februari 2011, ia mengatakan bahwa seleksi alam yang berjalan dapat menghancurkan spesies manusia.
Ketika ditanya alasannya, ia mengatakan, ”Sebab seleksi alam tidak punya pandangan jangka panjang. Seleksi alam dan proses pewarisan sifat telah membuat sifat keegoisan terkode dalam gen kita. Hal itu berguna bagi nenek moyang kita dulu, tapi berbahaya untuk kita.”
Gen keegoisan yang berpadu dengan dominasi spesies manusia di bumi berdampak pada kehausan akan sumber daya alam, memacu krisis energi, perubahan iklim, polusi dan kehancuran habitat. Kehausan itu akan membuat tak ada sumber daya yang tersisa untuk anak cucu yang akan berakhir pada kepunahan manusia.
Ia mengungkapkan, ”Kita harus melawan seleksi alam dan secara aktif melawan sifat-sifat genetik kunci kita.” Menurut dia, apa yang dibutuhkan sekarang adalah sifat genetik yang mau berkorban untuk masa depan, kebijaksanaan untuk merelakan sesuatu yang berguna bagi masa depan.

Solusi lain yang dibawanya adalah pengendalian populasi. ”Jika ingin planet ini terus bisa dihuni untuk tiap orang, Anda harus mengurangi jumlah penduduknya. Caranya adalah dengan KB. Kita telah memiliki metode KB yang etis dan terbukti secara ilmiah. KB adalah solusi yang paling etis,” katanya.
Ia mengatakan besarnya peran perempuan dalam mengupayakan kesintasan spesies manusia. ”Berbicara sebagai biolog, saya pikir perempuan kurang agresif jika dibandingkan dengan laki-laki. Mereka berperan besar dalam pendidikan anak usia dini dan mampu membantu melawan sifat-sifat genetiknya,” ujarnya.
Ia mengungkapakan bahwa dirinya terus berupaya untuk optimistis dengan masa depan manusia. ”Saya mencoba untuk optimistis sebab saya memilih untuk memberi pesan dan harapan bagi generasi muda dan mengatakan Anda bisa melakukan sesuatu untuk ini,” tuturnya. Namun, ia mengatakan bahwa tak banyak bukti tentang langkah itu.
Sumber :
www.sains.kompas.com/read/2011/03/10/19294785/Seleksi.Alam.Berbahaya.buat.Manusia
Beruang Terbesar Sepanjang Masa
Editor: Tri Wahono
Leopoldo Soibelzon Paleontolog Leopoldo Soibelzon membandingkan fosil tulang lengan atas beruang prasejarah yang ditemukan dengan kerangka gajah.
KOMPAS.com — Telah lahir juara baru untuk kategori beruang yang terbesar dan terburuk rupa yang pernah ditemukan. Seekor beruang prasejarah Amerika Selatan dengan bobot 1.600 kilogram dan tinggi saat berdiri mencapai 3,4 meter menjadi juaranya, menurut penemuan terbaru. Sebelumnya, beruang raksasa Amerika Utara dengan bobot 1.134 kilogram tercatat sebagai beruang prasejarah yang terbesar. Untuk beruang modern, rekor dipegang oleh beruang kutub Alaska dengan 998 kilogram.
Beruang Amerika Selatan ini menjelajahi Benua Amerika sekitar 500.000 hingga 2 juta tahun yang lalu. Menurut ilmuwan, beruang itu merupakan karnivora terbesar dan terkuat yang ada pada zamannya. "Sebagai karnivora, tak ada yang mendekati keperkasaan beruang Amerika Selatan ini," ujar Blaine Schubert, paleontologis dari East Tennessee State University di Johnson City, Tennessee.
Tulang-belulang beruang itu ditemukan di Provinsi Buenos Aires, Argentina, pada 1935. Baru-baru ini, tulang tersebut diteliti kembali oleh Schubert dan Leopoldo Soibelzon, seorang paleontologis dari Argentina yang mempunyai spesialisasi dalam meneliti fosil beruang Amerika Selatan. Peneliti mengukur tulang lengan atas yang hampir sebesar lengan atas gajah, dengan begitu sisa dari ukuran badan beruang dapat diperkirakan. Penelitian itu juga mengemukakan bahwa beruang jantan tua tersebut mengalami luka yang cukup serius selama hidupnya.
Ukuran Amat Penting "“Entah apa yang dimakan dan bagaimana cara dia makan, pertanyaan muncul saat menyadari beruang itu amat berbeda dengan saudaranya, beruang Amerika Utara," kata Schubert. Sebagai perbandingan, spesies beruang Amerika Selatan membesar dan kemudian mengecil seiring berjalannya waktu, berbeda dengan beruang Amerika Utara yang spesiesnya terus membesar.
Schubert mengindikasikan bahwa persediaan mangsa yang melimpah dan kompetisi yang sedikit, membuat beruang Amerika Selatan menjadi raja dari benua itu. Tetapi, seiring dengan evolusi dari karnivora, beruang itu pun beradaptasi dan menjadi lebih omnivora, layaknya beruang modern.
Di Amerika Utara, peningkatan ukuran dari beruang, menjadi keuntungan tersendiri. Kucing bergigi belati dan predator lain telah menyingkir, menurut beberapa peneliti. Kekuasaan beruang Amerika Utara mungkin bertepatan dengan hewan zaman es, seperti unta dan mammoth. (National Geographic Indonesia/Arief Sujatmoko)
Sumber :
National Geographic Indonesia